TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG KE "PRO EDUKASI"

31 Januari 2021

MENGINTIP PENDIDIKAN MASA DEPAN

Yuliyanto

 

Saya awali tulisan ini dengan sebuah kutipan pesan dari salah seorang Sahabat Nabi, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa depan yang berbeda dengan zamanmu”. (Ali Bin Abi Thalib).

Terdapat beberapa makna tersirat dalam pesan tersebut. Pertama, bahwa pendidikan itu harus terus berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses tersebut harus berlangsung sesuai dengan zamannya. Ketiga, bahwa pendidikan itu adalah sebuah investasi jangka panjang.

Salah satu komponen operasional untuk memenuhi kriteria sesuai dengan zamannya, adalah kurikulum. Oleh karena itu kurikulum selalu dan akan selalu berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan perubahan dan perkembangan zaman. Guru sebagai penghuni garda terdepan pendidikan seharusnya memahami dan menyadari hal tersebut, dan tidak sebaliknya menjadi “alergi” dengan perubahan dan perkembangan kurikulum.

Sumber: Koleksi pribadi

Masa pandemi covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2019 lalu, bisa jadi menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua untuk menyiapkan pendidikan di masa mendatang. Oleh karena itu, masa pandemi ini seharusnya menjadi masa untuk kita semua (termasuk guru) untuk terus mengembangkan dan mencoba berbagai metode pembelajaran yang tepat untuk mempersiapkan pendidikan di masa yang akan datang. Sangat mungkin terjadi pembelajaran di masa yang akan datang akan banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang kita peroleh di masa pandemi ini.

Bagaimana cara kita (guru) mengembangkan berbagai metode pembelajaran di masa pandemi ini? Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di masa pandemi menjadi salah satu jawaban ilmiah untuk pertanyaan tersebut. Apakah bisa guru melakukan PTK di masa pandemi? Semula hal ini menjadi hal yang tidak mungkin dilakukan oleh guru di masa pandemi. Tetapi belakangan terjadi perkembangan yang membolehkan kegiatan tersebut tetap bisa dilakukan di masa pandemi seperti saat ini.

“Bagaimana guru dapat mengembangkan metode pembelajaran jika PTK di masa pandemi dilarang?”, demikian kata seorang profesor yang juga rektor sebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah. PTK di masa pandemi tetap bisa dilakukan oleh guru, dengan catatan semua proses pembelajaran yang dilakukan guru dapat tejamin dapat diamati. Yang tidak bisa itu jika proses pembelajaran yang dilaksanakan guru secara daring, tetapi perilaku siswanya tidak bisa diamati. Sebagai contoh, pada saat proses pembelajaran, fasilitas video dimatikan semua. Begitu penjelasan lebih lanjut dari sang profesor.

Setelah masa pandemi ini, kelak revolusi industri 4.0 akan tetap dan terus berlangsung. Dunia pendidikan akan banyak dipengaruhi dan sebagian besar akan mengalami perubahan dan perkembangan. Jika saat ini tidak ada guru yang mencoba mengembangkan metode-metode pembelajaran melalui kajian ilmiah seperti PTK, bagaimana mungkin nanti guru akan bisa melakukan pembelajaran yang sesuai dengan zaman?

Seorang profesor dari sebuah perguruan tinggi lain di Jawa Tengah mengatakan, “Kelak akan sangat mungkin muncul banyak sekolah atau lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pendidik”. Siapa yang menyangka saat ini banyak muncul restoran yang dikelola oleh orang yang tidak memiliki latar belakang bisnis tersebut? Demikian sang profesor menggambarkan hal yang mungkin akan terjadi juga di dunia pendidikan, seperti berkembangnya bisnis-bisnis online saat ini.

Kelak akan sangat mungkin terjadi, seorang siswa terdaftar di sekolah A, tetapi bisa mengikuti proses pembelajaran di sekolah B, sekolah C, dan seterusnya. Begitu sang profesor pertama menambahkan penjelasan tentang kemungkinan yang bisa terjadi pada dunia pendidikan di masa mendatang. “Saat ini sudah mulai terjadi hal yang demikian di beberapa perguruan tinggi di Indonesai”, demikian tambhanya meyakinkan.

Disamping dipengaruhi oleh laju revolusi industri 4.0, pendidikan di mas mendatang juga dipengaruhi oleh benturan peradaban sebagai dampak globalisasi. Diprediksi sekitar 14,2 juta tenaga kerja cakap akan berimigrasi antar negara ASEAN. Hal lain yang juga memengaruhi pendidikan masa mendatang yaitu peningkatan daya saing SDM, yang diperkirakan sekitar 58 juta tambahan tenaga kerja cakap di tahun 2030. Dari sisi siswa, hal yang sangat memengaruhi pendidikan masa mendatang adalah karakteristik generasi milenial (ZGen) sebagai pembelajar yang cepat dan cerdas melalui berbagai media sosial digital.

Karakteristik ZGen perlu mendapat perhatian lebih bagi para guru dalam mencoba dan mengembangkan metode pembelajarannya. Walaupun diprediksi kelak akan banyak sekolah yang tidak dikelola oleh orang dengan latar belakang pendidik, namun guru akan tetap dan terus memiliki peran penting di dalamnya. Pengembang metode pembelajaran akan tetap menjadi bagian dari guru pada setiap zamannya.

Masa pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat ini harus kita (guru) tangkap sebagai sebuah kesempatan yang diberikan oleh Allah Tuhan yang Maha Kuasa untuk bersiap dan menyiapkan menghadapi pendidikan di masa mendatang. Pengembangan berbagai metode pembelajaran melalui berbagai cara, termasuk melalui kajian-kajian ilmiah seperti PTK seharusnya menjadi ladang bagi kita (guru). Dengan demikian, kelak kita akan siap dan benar-benar bisa melaksanakan tugas mendidik anak-anak yang benar-benar sesuai dengan zamannya, sesuai pesan saah seorang Sahabat Nabi yang saya sampaikan di awal tulisan ini.

24 Januari 2021

KEKUATAN TERIMA KASIH

Yuliyanto


Sekitar dua bulan yang lalu saya menerima pesan whatsapp seorang teman yang juga sesepuh di sebuah unit kerja di mana saya pernah diberikan kesempatan singgah. Terdapat beberapa pesan yang disampaikan, tetapi saya ingat dan sangat tertarik dengan sebuah kalimat, “Pak Yuli selalu dengan sangat ringan menyampaikan kata ‘terima kasih’. Saya akan mencoba meniru apa yang Pak Yuli lakukan itu”. Pada saat membaca pesan waktu itu hampir tidak ada pikiran, mengapa teman yang juga saya anggap sesepuh itu memiliki kesan yang mendalam dengan kata “terima kasih” yang menurutnya sering saya lakukan.

Sumber: Koleksi pribadi

Belakangan kalimat dalam pesan itu kembali muncul di pikiran saya. Kebetulan beberapa minggu yang lalu, bersama dua orang teman saya main ke sebuah toko buku ternama di Semarang. Hal yang sudah sangat lama tidak atau sangat jarang saya lakukan setelah tidak tinggal di kota tersebut. Saat memasuki toko buku, pandangan saya sudah tertarik dengan sebuh buku yang dipajang, berjudul “berani tidak disukai”. Eentah mengapa judul buku itu sangat mengganggu pikiran saya. Hingga setelah merasa cukup mengambil beberapa buku, akhirnya buku dengan judul itu pun saya ambil dan saya bawa ke kasir untuk ikut serta dibungkus.

Keeseokan harinya baru saya sempat membuka dan membacanya. Hal pertama yang saya lihat dan belum pernah saya baca dari buku-buku sebelumnya adalah penyajiannya. Muatan konsep pengetahuan tentang psikologi dalam buku itu disajikan dalam bentuk dialog antara dua orang, yang dalam buku itu disebut dengan “PEMUDA” dan “FILSUF”. Cara penyajian yang seperti inilah yang mungkin membuat para pembaca, termasuk saya memiliki keinginan untuk terus meneruskan membacanya hingga selesai. Beberapa hari saat buku itu saya bawa ke sebuah pertemuan, seorang teman pun mengambilnya, membuka, dan membacanya beberapa halaman. Saat mengembalikan pun dia berkomentar, “Setiap kalimat dalam buku itu perlu dipikirkan sejenak untuk bisa memahaminya. Tetapi penyajian buku ini sangat bagus dan menarik”.

Lalu apa hubungannya buku itu dengan judul dan kalimat pengantar tulisan ini? Baiklah, di dalam buku ini membahas sebuah topik yang berkaitan dengan kata “terima kasih”, seperti saya gambarkan di awal tulisan. Di bagian dialog antara Pemuda dan Filsuf pada malam keempat, dengan judul “Bagaimana Cara Merasakan Bahwa Engkau Berarti”, sang Filsuf menyampaikan jawaban atas pertanyaan Pemuda mengenai “kontribusi”, sebuah penekanan besar dalam teori psikologi Adler. “Hanya ketika seseorang mampu merasakan bahwa dirinya berhargalah dia bisa memiliki keberanian”, demikian kalimat Filsuf dalam buku tersebut. Lantas apa hubungannya kalimat ini dengan kata “terima kasih”?

Di situlah letak jawaban atas pikiran saya terkait dengan pernyataan teman yang juga sesepuh yang saya sampaikan di awal tadi. Kata “terima kasih” yang--katanya selalu saya sampaikan, merupakan sebuah kata yang membuat teman yang juga sesepuh itu merasa dihargai. Kata itu rupanya yang menjadikan dirinya lebih berharga, karena tidak sedang diposisikan dalam konteks hubungan antara atasan dan bawahan atau penilai dan yang dinilai, tetapi dalam posisi yang setara—walaupun tidak sama. Dengan demikian, dia merasaka bahwa dirinya berharga sehingga lebih memiliki keberanian untuk menghadapi dan menjalankan tugas-tugasnya dengan lebih baik.

Penghargaan, dalam arti menjadikan seseorang menjadi berharga dan merasa dihargai menjadi kebutuhan setiap individu dalam hubungannya dengan orang lain di masyarakat secara luas. Benarkah demikian? Baiklah saya berikan sebuah contoh kasus yang pernah saya temui, bahwa seseorang itu memerlukan penghargaan, sekalipun hanya berupa ucapan “terima kasih”. Suatu ketika saya menyampaikan postingan di sebuah grup, seperti biasa saya lebih memilih mengawali dengan pilihan kata “terima kasih”, atas partisipasi aktif anggota grup itu memenuhi kesepakatan yang telah kita sampaikan sebelumnya. Beberapa saat kemudian, seorang teman—yang merasa sudah memenuhi kesepakatan tetapi tidak tercantum namanya pada daftar menyampaikan, “kok saya tidak diberi ucapan terima kasih?” Bukankah ini sebuah bukti bahwa kita semua memerlukan penghargaan dengan kata itu?

Sebuah kata sederhana tetapi ternyata memiliki dampak atau kekuatan yang luar biasa bagi seseorang yang menerimanya. Hanya dengan memberikan kata tersebut bisa menjadikan kita menjadi lebih berharga atau dihargai. Dengan merasa lebih berharga atau dihargai, seseorang akan menjadi bisa menerima dirinya sendiri apa adanya, dan karenanya akan memiliki keberanian melaksanakan tugas-tugasnya dalam konteks yang luas. Oleh karenanya, tidak ada jeleknya kita selalu membiasakan menyampaikan kata tersebut—dengan ihlas sebagai sebuah bentuk penghargaan kepada orang lain dalam rangka memposisikan hubungan kesetaraan—sekali lagi walaupun tidak sama dalam konteks yang sangat luas.

22 Januari 2021

GLS MENJAWAB TANTANGAN AKM

Yuliyanto


Gencarnya pemberitaan tentang akan dilaksanakannya Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) membuat berbagai pihak yang terlibat langsung berupaya menyiapkan melalui berbagai cara. Seperti sudah diketahui dan mungkin dipahami oleh khalayak umum, bahwa AKM mengukur dua kompetensi mendasar, yaitu literasi membaca dan literasi numerasi. Merujuk pada buku “AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran” yang diterbitkan oleh Kemdikbud, literasi membaca dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks tertulis. Adapun literasi numerasi dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

Sumber: Koleksi pribadi

Rencana awal, pemerintah akan melaksanakan AKM pada bulan April 2021 ini. Namun belakangan beredar informasi dari pemerintah bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut akan diundur pada bulan September 2021. Informasi ini hampir tidak menggoyahkan upaya berbagai pihak dalam menyiapkan pelaksanaan kegiatan tersebut. Berbagai webinar tentang AKM dan/ atau berbagai program lainnya di sekolah untuk menyambut AKM terus berlangsung dengan penuh gairah. Tawaran buku-buku tentang AKM dari berbagai penerbit pun mulai meramaikan pasaran. Pun di ruang-ruang guru tidak ketinggalan pembahasan dengan topik seputar literasi yang menjadi inti dari AKM.

Literasi, baik membaca maupun numerasi merupakan sebuah keterampilan. Seperti berbagai keterampilan lainnya, cara terbaik melatihnya adalah melalui kegiatan atau aktivitas yang berkaitan langsung dengan membaca dan/ atau numerasi. Keterampilan ini tidak bisa diwujudkan hanya dengan cara instan melalui metode drilling. Cara yang dipandang lebih tepat untuk mewujudkan hal ini yaitu melalui sebuah kegiatan pembiasaan atau habituasi. Hal ini sejalan dengan pendapat seorang nara sumber dalam sebuah webinar tentang AKM, menanggapi pertanyaan seorang peserta, bahwa “pembiasaan merupakan cara yang paling tepat untuk menyiapkan AKM”.

Lebih lanjut nara sumber itu menambahkan alasan mengapa kegiatan pembiasaan dipandang sebagai cara yang tepat mengadapi AKM. “Karena soal-soal AKM tidak berbasis kompetensi dasar (KD), tetapi berbasis tema”, demikian  nara sumber yang juga sebagai salah seorang dari pusmenjar kemdikbud yang ikut menggagas lahirnya AKM tersebut menyampaikan secara jelas dan tegas. Hal ini bisa dimaknai bahwa soal-soal AKM kurang tepat disajikan dalam proses pembelajaran di kelas pada satu mata pelajaran tertentu saja. Proses pembelajaran di setiap mata pelajaran hanya sebagai jembatan untuk memfasilitasi siswa agar mampu menyelesaikan permasalahan berbasis tema dalam AKM, yaitu melalui pengintegrasian higher order thinking skills (HOTS) di dalamnya.

Pertanyaan yang mungkin muncul yaitu “pembiasaan seperti apa yang bisa menjawab tantangan AKM?” Menurut saya, gerakan literasi sekolah (GLS) merupakan jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tentu saja, agar benar-benar dapat menjawab tantangan AKM, bentuk kegiatan dalam gerakan ini yang sejalan dengan tujuan dari AKM itu sendiri, yaitu untuk mengukur kemampuan listerasi membaca dan numerasi. Satuan pendidikan dapat merancang GLS ini melalui kegiatan pembiasaan, memanfaatkan waktu sekitar 15 – 30 menit sebelum proses pembelajaran jam pertama di kelas, dengan rutin setiap hari memberikan sebuah soal yang memnuhi kriteria soal AKM. Agar nuansa gerakan itu lebih kelihatan nyata, kegiatan ini dapat diatur dengan melibatkan guru dalam penyusunan soal, dan juga melakukan kegiatan pembiasaan seperti yang dilakukan oleh siswa. Lebih baik lagi jika kegiatan pembiasaan ini menjadi menu wajib bagi seluruh warga sekolah.

Alternatif bentuk kegiatan tersebut memiliki beberapa keuntungan, baik dari sisi siswa maupun guru. Dari sisi siswa, dengan setiap hari dibiasakan setiap pagi untuk mengerjakan sebuah soal, dalam waktu sebulan saja setidaknya mereka telah terlatih dan terbiasa membaca dan merefleksikannya dalam memcahkan permasalahan yang diajukan. Dengan demikian harapannya siswa akan menjadi terbiasa, yang pada akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah budaya membaca dan merefleksikannya dalam bertindak untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Selain hal itu, pembiasaan pada waktu 15 – 30 menit sebelum mulai proses pembelajaran pada jam pertama ini akan mengondisikan kesiapan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran pada jam pertama. Kondisi ini akan menjadi salah satu faktor positif keberhasilan proses pembelajaran hari itu. Ibarat seorang atlit olahraga yang akan bertanding, kegiatan tersebut merupakan sebuah kegiatan pemanasan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti cidera.

Selanjutnya pelibatan guru dalam kegiatan pembiasaan tersebut juga bisa berdampak positif dalam gerakan tersebut. Kegiatan penyiapan soal yang melibatkan seluruh guru dengan jadwal tertentu akan lebih cepat meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru terhadap soal-soal AKM. Adapun pelibatan guru dalam kegiatan pembiasaan seperti yang dilakukan siswa, akan meningkatkan keterampilannya dalam berliterasi dan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang menjadi salah satu keterampilan berpikir yang harus ditransfer kepada siswa. Akhirnya, peibatan guru dan siswa serta seluruh komponen satuan pendidikan itu, diharapkan dapat menumbuhkan budaya literasi yang tinggi, dan pada akhirnya akan menjelma menjadi sebuah sistem yang literate. Dengan demikian, sindiran seperti kalimat “gerakan literasi dalam sistem yang tidak literate” tidak akan pernah ada lagi.

10 Januari 2021

SILATURAHIM INTELEKTUAL

 Yuliyanto

Silaturahim – sebagian besar ada yang menyebut dengan istilah silaturahmi, merupakan diksi yang sering digunakan untuk menggambarkan sebuah hubungan persahabatan atau persaudaraan. Saya lebih memilih kata silaturahim karena memiliki makna yang lebih mendalam dalam hubungan tersebut. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh seorang pembicara dalam sebuah acara halal bihalal – seperti pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, bahwa bersilaturahim memiliki makna mengikat atau menjalin tali persahabatan atau persaudaraan seperti eratnya saudara kandung. Adapun bersilaturahmi dijelaskan dalam ceramah tersebut sebagai aktivitas mengikat atau menjalin tali persaudaraan seperti eratnya saudara sepupu. Merujuk keduanya, bukankah silaturahim memiliki makna yang lebih mendalam?


Sumber: Koleksi pribadi

Pemilihan diantara kedua kata tersebut selanjutnya terserah Anda – yang jelas keduanya memiliki makna yang baik, yaitu mengikat atau menjalin tali persahabatan atau persaudaraan. Anda memiliki kebebasan penuh untuk memilih salah satu diantaranya dalam penggunaannya sebagai upaya menjalin persahabatan atau persaudaraan. Banyak cara atau kegiatan yang dapat diniatkan untuk bersilaturahim. Bahkan hampir semua ativitas kita yang melibatkan hubungan secara individu atau kelompok selalu kita awali dengan niat bersilaturahim. Oleh karenanya tidak mengherankan pilihan kata itu selalu dipilih dan digunakan untuk mengawali berbagai kegiatan yang melibatkan hubungan secara individu maupun kelompok.

Selanjutnya kata intelektual seperti kita pahami bersama, dapat dimaknai sebagai hal yang menyangkut sebuah pemikiran atau pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu yang dimaksud dengan silaturaim intelektual dalam tulisan ini, yaitu sebuah kegiatan menjalin tali persahabatan atau persaudaraan melalui pemikiran atau pemahaman bersama terhadap pengetahuan yang dilakukan secara individu maupun kelompok. Pengetahuan dalam hal ini sangat luas dan bisa berhubungan dengan apa saja. Melalui kegiatan ini memungkinkan kita untuk memperoleh banyak hal. Merujuk pada pengertian silaturahim intelektual tersebut, setidaknya kita bisa menyebut dual hal yang dapat kita peroleh secara langsung, yaitu makin eratnya hubungan persahabatan atau persaudaraan serta bertambahnya pengetahuan.

Terdapat banyak ragam bentuk kegiatan yang bisa dijadikan sebagai media silaturahim intelektual. Kegiatan diskusi membahas pengetahuan tertentu, secara langsung maupun tidak langsung merupakan salah satu contoh bentuk kegiatan yang bisa menjadi media silaturahim intelektual. Dalam lingkup yang lebih luas, kegiatan seperti pelatihan, workshop, seminar dan sejenisnya merupakan bentuk-bentuk kegiatan yang bisa menjadi media silaturahim intelektual bagi semua komponen yang terlibat. Oleh karenanya agar kita dapat memperoleh banyak manfaat, tidaklah berlebihan apabila kita meniatkan diri dengan silaturahim dalam kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. Dengan demikian, kita tidak saja akan memperoleh pengetahuan sesuai topik yang diusung, tetapi manfaat dan berkah dalam berbagai bentuk yang timbul dari niat silaturahim.

Di era digital seperti saat ini teknologi informasi sangat membantu kita untuk bisa melakukan silaturahim intelektual tanpa dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Seorang teman menguatkan hal itu melalui pernyataan perpisahannya dengan sebuah kalimat, “Jarak bukan penghalang untuk selalu menjalin silaturahim”. Kecanggihan teknologi informasi memungkinkan kita melakukan kegiatan tersebut di dalam ruang yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Melalui berbagai media sosial semua hal tersebut bisa dilakukan dengan sangat mudah. Hampir semua media sosial menyediakan fasilitas untuk bisa saling berkomunikasi antar individu, dan ini bisa dimanfaatkan sebagai media silaturahim secara umum – termasuk di dalamnya silaturahim intelektual. Fasilitas grup yang ditawarkan oleh berbagai media sosial pun bisa kita manfaatkan untuk memperkuat silaturahim intelektual.

Saya sangat gembira dan bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa memanfaatkan media sosial sebagai media silaturahim intelektual, baik secara perorangan atau kelompok. Mengapa demikian? Menjadi pilihan sebagai partner diskusi melalui -- media sosial, walaupun mungkin bukan yang utama, merupakan sebuah kesempatan bagi saya untuk dimanfaatkan sebagai media mempererat tali persahabatan atau persaudaraan, sekaligus memperluas wawasan dan pengetahuan dari topik diskusi yang disepakati. Kontak yang terjadi – melalui media soail, bisa menjadi media untuk mempererat tali persahabatan atau persaudaraan walaupun masing-masing dalam dimensi ruang yang berbeda, dalam arti terpisah oleh jarak. Adapun topik diskusi yang disepakati bisa menjadi sarana untuk menambah atau memperluas pengetahuan atau wawasan.

Tulisan ini pun harus saya akui sebagai salah satu dampak dari silaturahim intelektual. Berawal dari sebuah pelatihan daring, dibentuklah sebuah grup sebagai media untuk menyampaikan tagihan-tagihan yang harus diselesaikan. Di situ banyak berkumpul teman dan para pakar di bidangnya. Setiap tagihan yang disampaikan menjadi bahan diskusi semua anggota untuk saling memberikan komentar dan / atau penilaian serta penguatan-penguatan agar semua berkembang menjadi lebih baik. Dengan mengikuti kegiatan dan bergabung di grup tersebut saya menjadi mengenal banyak teman dan guru serta para pakar yang sebelumnya tidak saya kenal. Ini berarti melalui kegiatan tersebut saya telah mendapat banyak teman atau saudara. Melalui komentar dan diskusi itu saya menjadi lebih bertambah pengetahuan dan wawasannya. Dengan silaturahim intelektual kita akan memperoleh tambahan teman atau saudara dan wawasan atau pengetahuan. []

INFO REDAKSI

Mulai saat ini, serial tulisan "Menjadi 'GOBLOK' Dalam Kesibukan" tayang juga di blog ini. Semua tulisan dalam serial ini diambil dari tulisan yang sama di catatan dan dinding facebook saya. Silahkan beri penilaian: Bermanfaat, Menarik, atau Menantang di bawah artikel yang sesuai. Bagi pengguna facebook masih tetap bisa membacanya melalui link: https://www.facebook.com/mr.yulitenan