TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG KE "PRO EDUKASI"

29 Agustus 2020

MEMAHAMI SEBUAH SIMBOL

Oleh: Yuliyanto


Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “simbol” berarti lambang. Kata “lambang” sendiri dalam referensi tersebut diartikan sebagai tanda, yang lebih lanjut dimaknai sebagai suatu bukti. Terdapat muatan ide atau gagasan dalam sebuah simbol. Hal ini sesuai dari asal kata tersebut yaitu symballo (dari bahasa Yunani) yang artinya meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau gagasan objek yang kelihatan. Ini berarti kata simbol dapat dimaknai sebagai sebuah tanda atau bukti dari suatu ide atau gagasan.

Sebuah simbol dapat berbentuk ucapan, tulisan, benda, atau gerakan tertentu. Ucapan salam seperti “Assalamualaikum” merupakan salah satu contoh simbol berbentuk ucapan. Dalam matematika dikenal tulisan f(x) = x + 1 yang merupakan salah satu contoh simbol tertulis. Benda-benda yang kita miliki seperti cincin dan kendaraan merupakan contoh simbol berbentuk benda. Tentu masih sangat banyak simbol-simbol yang dapat kita jumpai di sekitar kita. Gerakan dari bagian tubuh kita adalah contoh simbol gerakan sederhana. 

Permasalahan yang sering muncul dan bisa berpotensi menjurus pada kesalahan, yaitu pemahaman terhadap suatu simbol sebagai substansi atau inti. Padahal simbol hanyalah tanda yang di dalamnya memuat sebuah ide atau gagasan yang seharusnya dipahami. Simbol yang berbentuk ucapan seperti “Assalamualaikum” memuat ide atau gagasan untuk mendoakan agar diberikan keselamatan. Pun simbol matematika f(x) = x + 1, memuat ide atau gagasan bahwa fungsi f memetakan x ke x + 1. Jika ide atau gagasan yang merupakan substansi dari simbol ini tidak dipahami, pasti tidak akan tahu apabila ditanya berapa nilai dari f(2), f(k), atau yang lebih kompleks f(2y - 5), dan seterusnya.

Dalam konteks yang lebih luas dan kompleks, proses wisuda yang pernah kita alami atau saat ini sedang kita saksikan merupakan contoh simbol berbentuk gerakan. Ini sesuai dengan pengertian wisuda yang dapat diartikan sebagai sebuah penanda kelulusan bagi seseorang yang telah menempuh masa belajar pada suatu jenjang pendidikan. Pun di dalam proses wisuda banyak sekali terdapat simbol-sombol, seperti toga, samir, selempang cumlaude, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sumber: Chanel Youtube Telkom University

Alhamdulillaah ... Selamat Nak ... Semoga bermanfaat ilmunya. Teruslah belajar dan berupaya menjadi yang terbaik dengan tetap rendah hati”, demikian doa pertama saya panjatkan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa sesaat setelah menyaksikan wisuda anak saya hari ini (Sabtu, 29 Agustus 2020). Walaupun secara virtual akhirnya dilaksanakan juga proses wisuda sebagai penanda kelulusan ini, yang semula dijadwalkan akhir Maret 2020. Karena situasi pandemi yang masih berlangsung hingga saat inilah akhirnya proses wisuda dilaksanakan secara virtual. Tentu saja hal ini juga didukung oleh pemahaman tentang simbol “wisuda” bukan sebagai sebuah substansi, terutama dari seluruh wisudawan dan orang tuanya, serta seluruh civitas akademik.

Wisuda sebagai sebuah simbol dengan berbagai macam kelengkapannya pun harus dipahami ide dan gagasan yang tersirat di dalamnya. Wisuda bukanlah akhir dari rangkaian kegiatan belajar, tetapi justru merupakan awal dimulainya sebuah perjuangan untuk meningkatkan kecerdasan dalam kehidupannya. Pola kehidupan yang cerdas akan menumbuhkan karakter kreatif dan inovatif. Dengan kehidupan yang cerdas diharapkan dapat meingkatkan kesejahteraan. Dengan demikian maka seorang yang telah diwisuda diharapkan akan mampu melindungi dirinya, keluarganya, dan masyarakat sekitar di mana dia berada.

Selempang cumlaude yang mungkin dikenakan saat wisuda sebagai simbol lulus dengan pujian karena telah memenuhi syarat-syarat tertentu, pun harus dipahami sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan usai proses wisuda. Jangan pernah merasa bangga apalagi sombong dengan kepemilikan simbol ini, karena hal ini tidak akan bermakna apa-apa apabila ilmu yang diperoleh tidak membawa kebermanfaatan bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat luas. Sebaik-baik cara menyikapi capaian ini adalah dengan bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tunjukkan dalam cara berpikir serta tindakan nyata yang memancarkan ide atau gagasan yang terkandung di dalamnya.

27 Agustus 2020

SEMELEH

Oleh: Yuliyanto
(25 Agustus 2020)


Dalam pelajaran Bahasa Jawa, kata "semeleh” berasal dari kata "seleh" yang artinya meletakkan dengan mendapat sisipan "em". Dalam penerapannya kata ini sering digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang dalam menerima dan menjalani kehidupannya. Seseorang yang bersikap semeleh dapat dimaknai ihlas, menerima segala sesuatu apa adanya. Orang yang semeleh akan mampu menerima dan menjalani kehidupannya dengan lebih tenang pikiran dan pola pikirnya serta sangat menikamati peran yang sedang dijalaninya.

Sikap semeleh ini juga diyakini dapat menjaga kesehatan fisik seseorang. Hal ini dikarenakan sikap semeleh ini sangat erat kaitannya dengan pikiran dan hati seseorang dalam menjalani sesuatu. Oleh karenanya kata "semeleh" ini juga sering digunakan oleh orang tua, guru, atau sahabat kita untuk menasehati ketika kita dalam kondisi kurang baik, secara fisik maupun non fisik. Saya dan mungkin juga Anda pasti sudah pernah menerima nasehat “Rasah dipikir banget-banget. Sing semeleh atine”.

Seperti hari ini (25-8-2020) saya bertemu dua orang guru atau saya akui sebagai guru, dan keduanya memberikan sebuah nasehat yang memuat kata “semeleh”. Saya katakan demikian karena salah satu diantaranya adalah guru saya di jenjang SMP, dan seorang lagi pernah menjadi pimpinan saya di sebuah lembaga beberapa tahun silam, dan sejujurnya beliau saya akui sebagai guru juga. Nasehat tersebut tentu hanya sebagai sisipan atau bumbu pembicaraan kita, namun bagi saya merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk diteladani.

Pak Gik, begitu saya biasa menyapa sosok yang saya akui sebagai salah seorang guru, hadir sesuai kencan kita saat bertemu dua hari sebelumnya. Tidak sendirian, beliau didampingi salah seorang teman yang dulu juga pernah bersama-sama pada masa kepemimpinannya. Untuk sekadar memenuhi keperluan yang sudah kita bicarakan sebelumnya tidak butuh waktu lama. Semua sudah kita siapkan sebelumnya, tinggal menimbang dan mengangkutnya. Namun demikian kami bertiga lebih asyik bercerita ngalor-ngidul seperti sebuah acara reuni kecil.

Sumber: Koleksi pribadi

Di tengah-tengah ceritanya itulah Pak Gik menyampaikan resepnya yang saya tangkap sebagai sebuah nasehat. Sebuah kata "semeleh" adalah resep dari semua itu, menanggapi ungkapan seorang teman yang ikut menemui dan mengatakan “Pak Gik nampak lebih segar, sehat, dan kelihatan muda”. Sikap semeleh itu yang menjadikan beliau manjalani aktivitasnya saat ini dengan senang hati, sebagai pengelola bank sampah yang menurut saya merupakan sebuah aktivitas yang sangat terpuji. Hal inilah nampaknya yang menjadikannya selalu tampil ceria dan gembira, dan ini menjadikannya seperti ungkapan yang disampaikan oleh seorang teman tadi.

Guru kedua yang saya temui di tempat yang sama hari ini adalah guru masa SMP, Pak Joko atau Bapa Dwija Utama, begitu saya terbiasa menyapanya. Hadir selepas tengah hari setelah kegiatan dinasnya. Kami juga sudah kencan terlebih dahulu, bahkan empat hari sebelumnya. Tidak ada agenda penting selain hanya untuk bertemu, ngopi bersama, dan bercerita seperti kami sering melakukannya di tempat beliau bertugas. Wayang, adalah topik pertama yang menjadi pembuka pembicaraan kita. Kami sama-sama penggemar wayang kulit, hampir setiap minggu satu atau dua kali kami kencan nobar wayang kulit dengan lakon dan dhalang yang sama, walaupun dari rumah masing-masing.

Sumber: Koleksi pribadi

Pembicaraan kami akhirnya sampai pada permasalahan penyakit dan kesehatan. Mengawali ceritanya, Pak Joko menyampaikan saat ketemu temannya di sebuah klinik kesehatan. Berdasarkan analisanya sampai pada simpulan kalau sumber penyakit itu adalah beban pikiran yang terus-menerus dirasakan. “Kono ki kakehan pikiran. Teko sik semeleh wae”, begitu kurang lebih saran yang disampaikan kepada temannya. “Penyakitmu ki merga pikiran, nek penyakitku penyakit tenan”, lanjutnya sambil tertawa menggambarkan kondisi temannya dan dirinya yang juga barusaja sembuh dari sakitnya.

Hari ini saya mendapatkan sebuah nasehat dari guru-guru saya. Sebaik-baik nasehat adalah nasehat guru kepada muridnya, setelah nasehat orang tua kepada anaknya. Sebuah kata yang keluar dari dua orang guru yang berbeda, tidak kencan, dan tidak direncanakan, tetapi keluar kata yang sama yaitu “semeleh”. Merujuk dari cerita yang disampaikan kedua guru tersebut, kata “semeleh” memuat makna agar kita dalam bekerja atau beraktivitas harus melakukannya dengan senang hati, gembira, dan jangan menjadi beban pikiran berkelanjutan atas permasalahan-permasalahan yang mungkin kita hadapi.

TRESNA JALARAN SAKA KULINA

Oleh: Yuliyanto
(22 Agustus 2020)


Pernahkah Anda membaca atau mendengar ungkapan Jawa seperti pada judul tulisan ini? Atau bahkan mungkin Anda pernah mangalaminya sendiri? Di kalangan masyarakat Jawa, ungkapan “Tresna jalaran saka kulina” pasti sudah tidak asing lagi. Ungkapan ini dapat dimaknai bahwa rasa cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa. Kebiasaan-kebiasan tertentu seperti sering bertemu, sering bersama-sama, sering berkomunikasi, dan lainnya dapat menumbuhkan rasa cinta, walaupun mungkin pada awalnya sama sekali tidak terdapat perasaan itu.

Dari gambaran tersebut dapat kita pahami bahwa tumbuhnya rasa cinta itu dapat dilakukan melalui sebuah pembiasaan. Dalam konteks di atas pembiasaannya dilakukan melalui aktivitas sering bertemu, sering bersama-sama, dan sering berkomunikasi. Dalam konteks yang lebih luas dapat kita tafsirkan bahwa karakter-karakter tertentu dapat ditanamkan melalui peoses pembiasaan. Melalui kegiatan pembiasaan akan tumbuh kebiasaan, yang dalam kurun waktu tertentu akan menjelma menjadi sebuah budaya yang pada akhirnya bisa tumbuh menjadi sebuah karakter.

Merujuk pada pengertian cinta yaitu sangat suka, sangatlah sempit jika kita hanya menafsirkannya sebagai perasaan sangat suka diantara dua individu berlainan jenis. Dalam konteks yang lebih luas rasa cinta ini bisa saja tumbuh pada seseorang tidak saja dengan lawan jenisnya, tetapi pada benda lain atau bisa jadi terhadap aktivitas tertentu. Seseorang yang sangat suka dengan kendaraannya bisa dikatakan dia mencintainya. Pun seseorang yang sangat suka dengan membaca atau menulis, bisa juga dikatakan dia mencintai aktivitas tersebut.

Tentang aktivitas membaca dan menulis tersebut belakangan menjadi hal yang perlu memperoleh perhatian lebih dari kita semua. Hal ini berkaitan dengan masih rendahnya kemampuan membaca dan menulis sebagai bagian dari literasi dasar. Seperti paparan Moch. Abduh dalam tulisan saya sebelumnya “Mengukur Kemampuan Bernalar”, bahwa “Skor rata-rata Indonesia di PISA 2018 untuk tiga bidang tersebut semua berada di bawah rata-rata skor negara-negara OECD” menjadi salah satu bukti yang menguatkan kondisi ini. Salah satu diantara ketiga bidang tersebut adalah literasi membaca.

Sumber: Koleksi pribadi

Dalam dunia pendidikan ungkapan Jawa “Tresna jalaran saka kulina” itu bisa dijadikan salah satu dasar pemikiran melaksanakan pembiasaan, termasuk di dalamnya pembiasaan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap membaca dan menulis. Pembiasaan membaca, dalam arti memahami dan mampu merefleksikan berbagai bacaan perlu dilakukan oleh semua warga sekolah. Dengan terbiasa membaca yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten dalam kurun waktu tertentu kemungkinan besar akan dapat menumbuhkan rasa cinta. Perasaan cinta membaca inilah yang diharapkan akan mampu membawa pada kondisi meningkatnya kemampuan literasi membaca, dalam arti mampu memahami dan merefleksikan isi bacaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Sudah barang tentu keberhasilan penumbuhan rasa cinta membaca tersebut tidak saja bergantung pada satuan pendidikan. Faktor lain sebagai bagian dari komponen tri pusat pendidikan, yaitu keluarga dan masyarakat juga sangat berpengaruh. Pembiasaan membaca juga harus dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pembiasaan membaca sebagai bagian dari literasi dasar di satuan pendidikan melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus didukung di keluarga dengan Gerakan Literasi keluarga (GLK) dan di masyarakat dengan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM).

Pembiasaan membaca melalui gerakan literasi pada ketiga komponen tersebut harus dilaksanakan secara sinergis dan harmonis. Dengan demikian maka sistem yang literate akan terbentuk. Hal yang sangat kecil kemungkinannya atau bahkan mustahil bisa diwujudkan, membangun kemampuan literasi di dalam sistem yang tidak literate. Semua komponen harus memulai membiasakannya, agar semua menjadi terbiasa dan lama-kelamaan akan menumbuhkan rasa cinta, yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan literasi membaca. Seperti ungkapan Jawa “Tresna jalaran saka kulina”, kemampuan literasi membaca pun demikian, “Tresa maca jalaran saka kulina maca”.

MENGUKUR KEMAMPUAN BERNALAR

Oleh: Yuliyanto
(20 Agustus 2020)


Sebuah perubahan besar terjadi pada dunia pendidikan dasar dan menengah di awal tahun pelajaran baru 2019-2020 mengiringi pergantian Mendikbud dalam kabinet 2019-2024. Ya, salah satu perubahan besar itu adalah ditetapkannya tahun 2020 menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sebagai pengganti bentuk asesmen itu di tahun-tahun mendatang adalah akan dilaksanakannya Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).

Pembahasan mengenai AKM pun mulai terjadi di mana-mana. Dalam suatu kesempatan pertemuan mempersiapkan kegiatan ujian nasional untuk terakhir kalinya tahun lalu, seorang nara sumber menyampaikan bahwa dengan AKM itu nanti hasilnya diprediksi akan juga minimalis. Pernyataan sang nara sumber dikuatkan dengan memaparkan beberapa contoh soal AKM di beberapa negara, dan sampai pada satu simpulan bahwa konsep AKM lebih mengukur kemampuan bernalar pada level kognitif C-4 (menganalisis), C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mencipta) atau yang lebih sering dikenal sebagai HOTS (Higher Order Thinking Skills), salah satu keterampilan abad 21 disamping 4K (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif).

Konsep yang melatarbelakangi pelaksanaan AKM adalah capaian skor Indonesia di Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur kemampuan literasi siswa di bidang membaca, matematika, dan sain. Data capaian skor tersebut, seperti dipaparkan oleh Moch. Abduh pada Webinar Lembaga Komite Sekolah Nasional menunjukkan bahwa skor rata-rata Indonesia di PISA 2018 untuk tiga bidang tersebut semua berada di bawah rata-rata skor negara-negara OECD. Dalam paparannya, lebih lanjut disampaikan titik-titik lemah kemampuan siswa Indonesia dalam literasi pada ketiga bidang tersebut.

Di bidang literasi membaca, titik lemah tersebut adalah tidak cermat membaca informasi yang ada pada footnote. Berpikir saintifik untuk memverifikasi semua informasi logis atau tidak berdasarkan bukti ilmiah, menjadi titik lemah siswa Indonesia di bidang literasi sain. Adapun titik lemah di bidang literasi matematika adalah kemampuan mengolah informasi (mencerna permasalahan, mengidentifikasi informasi, memilah dan menggunakan informasi). Berdasarkan data inilah konsep AKM dimunculkan sebagai salah satu jawaban yang diduga akan mampu mengatasi kelemahan tersebut.

Berdasarkan aspek yang diukur, AKM mengukur kemampuan bernalar tentang teks dan angka yang merupakan bagian dari keterampilan dasar literasi dan numerasi. Kata “minimum” dalam AKM memuat makna bahwa tidak semua konten dalam kurikulum diukur. Masih dalam paparannya, Moch. Abduh menyampaikan bahwa literasi membaca berkaitan erat dengan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah. Adapun literasi numerasi berkaitan erat dengan kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

Kata kunci dalam AKM adalah mengukur kemampuan bernalar, yaitu kemampuan menggunakan nalar atau berpikir logis. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu simpulan yang berupa pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir (bukan perasaan). Oleh karenanya kegiatan ini memiliki karakteristik tertentu dalam menemukan sebuah kebenaran. Merujuk pendapat Suriasumantri dalam bukunya “Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer” karakteristik penalaran adalah “adanya proses berpikir logis dan analitik”. Ini berarti hasil dari suatu penalaran merupakan sebuah kebenaran yang masuk akal melalui sebuah penyelidikan sebelumnya.

Dalam konteks AKM, kebenaran jawaban siswa sangat bergantung dengan kemampuan bernalarnya. Prediksi di atas yang mengatakan bahwa dengan AKM itu nanti hasilnya akan juga minimalis, memuat makna bahwa kemampuan bernalar siswa masih rendah (setidaknya hingga saat prediksi tersebut dilontarkan). Bagi kita yang kebetulan terlibat langsung dengan prediksi tersebut tidak perlu marah, tersinggung, dan sebagainya. Data hasil PISA cukup menjadi bukti mewakili munculnya prediksi tersebut. Menjadikan prediksi (yang bersifat belum pasti) menjadi sebuah tantangan yang harus dijawab akan lebih baik bagi kita semua.

Seperti kemampuan-kemampuan lainnya, bernalar termasuk kemampuan yang juga bisa dilatih. Jika belajar membaca dilakukan dengan membaca, belajar menulis dilakukan dengan cara menulis, maka belajar bernalar juga paling baik dilakukan dengan bernalar. Kemampuan bernalar dalam AKM tidak bisa disiapkan hanya dengan cara-cara seperti menyiapkan siswa menghadapi ujian nasional seperti sebelumnya. Proses pembelajaran harus memfasilitasi siswa untuk bernalar, meningkatkan keterampilan dasar literasi membaca dan numerasi. Jika hal ini dilakukan secara menyeluruh dan konsisten oleh semua komponen yang terlibat langsung, bukan hal yang mustahil hasil AKM akan meleset dari prediksi tadi. Dalam lingkup yang lebih luas, pada rentang waktu tertentu nanti bukan hal yang mustahil juga skor capaian Indonesia di PISA akan melampaui rata-rata skor negara-negara OECD.

JANGAN MENGELUH

Oleh: Yuliyanto
(17 Agustus 2020)


Urip kui sanajan abot tetep kudu dilakoni. Aja sambat lan aja ngeluh. Aja mandheg sanajan dhengkul wis ndredheg”. (Hidup itu walaupun berat harus tetap dijalani. Jangan mengeluh. Jangan berhenti walaupun kaki sudah gemetar). Demikian kutipan isi sambutan Gubernur Jawa Tengah yang dibacakan oleh Inspektur Upacara pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-75 di salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang hari ini (Senin, 17-8-2020). Sebuah nasehat sederhana yang (menurut saya) sangat relevan pada setiap jaman, termasuk di era milenial saat ini.

Sumber: Koleksi pribadi

Pelaksanaan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini sangat istimewa, karena bertepatan dengan kondisi pandemi covid-19 yang masih terus berlangsung, yang mengharuskan kita semua untuk tetap menjaga jarak dan menghindari kerumunan masa. Oleh karenanya di beberapa instansi pemerintah pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara virtual di masing-masing instansi. Bagi anak-anak sekolah hal ini bahkan merupakan sebuah keharusan, sedangkan bagi pegawai di beberapa instansi melaksanakannya secara langsung dengan kuantitas terbatas dan sederet protokol kesehatan yang harus di patuhi.

Kecamatan Candimulyo, salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang merupakan salah satu instansi yang melaksanakan kegiatan tersebut secara langsung. Tidak seperti pelaksanaan di tahun sebelumunya saat kondisi normal, pelaksanaan upacara hari ini hanya diikuti oleh peserta dalam jumlah terbatas. Peserta dari luar instansi kecamatan hanya dibatasi untuk para pimpinan instansi saja. Hal ini sesuai yang disampaikan pada rapat koordinasi lintas sektoral sebelumnya, bahwa untuk memenuhi protokol kesehatan, pelaksanaan upacara secara langsung hanya boleh dilaksanakan dengan jumlah peserta dalam kisaran 50 orang.

Selain pembatasan jumlah peserta, hal lain yang baru dari pelaksanaan kegiatan ini adalah diterapkannya beberapa protokol kesehatan. Sejak kehadiran peserta, pada saat melakukan presensi diukur suhu tubuhnya oleh petugas dan wajib mengenakan masker. Panitia menyediakan sejumlah masker berlogo HUT RI 75 INDONESIA MAJU dengan tambahan nama kecamatan di bawahnya. Semua peserta dibagikan masker ini, walaupun sebelumnya sudah mengenakannya seperti himbauan yang tertera pada undangan. Hal ini lebih untuk tujuan keseragaman, disamping untuk memenuhi salah satu protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Sumber: Koleksi pribadin

Hal lain yang berbeda dari pelaksanaan kegiatan ini dari tahun-tahun sebelumnya yaitu posisi peserta upacara. Begitu komandan peleton memasuki lapangan menandai dimulainya pelaksanaan upacara, langsung mengambil alih komando dengan menyiapkan peserta di masing-masing peleton. Instruksi berikutnya dari komandan peleton tidak lagi “lencang kanan” seperti biasanya, tetapi dengan “rentangkan kedua tangan” seperti layaknya menyiapkan peserta senam. Hal ini tentu saja untuk memastikan diantara peserta memiliki jarak cukup sesuai dengan protokol kesehatan.

Pada saat pengibaran bendera pun terjadi keistimewaan dibandingkan dengan pelaksanaan pada kondisi normal. Tidak ada pasukan pengibar bendera dan paduan suara yang mengiringinya. Untuk menggantikannya panitia memutar lagu Indonesia Raya untuk mengiringi naiknya bendera merah putih oleh petugas pengibar bendera, yang juga hanya dilakukan oleh 3 orang. Pun ketika acara mengheningkan cipta untuk mengenang dan mendoakan arwah para pahlawan, hanya diiringi alunan rekaman lagu tersebut. Namun demikian hal itu tidak sedikitpun mengurangi khidmat jalannya rangkaian upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-75 tahun ini.

“Bapak-Ibu, di usia negara kita yang ke-75 tahun ini spirit jangan mengeluh itulah yang mesti ada di setiap dada kita”, demikian lnspektur Upacara membacakan lanjutan isi sambutan Gubernur Jawa Tengah. Sebuah kalimat ajakan untuk peserta upacara, seluruh warga Jawa Tengah, dan bahkan untuk kita semua yang patut kita renungkan kembali untuk tetap menjaga dan menumbuhkan semangat perjuangan di masing-masing bidangnya. “Seberat apapun kehidupan yang kita hadapi”, lanjutan kutipan nasehat dan ajakan orang nomor satu di Jawa Tengah ini dalam sambutan tertulisnya.

Mungkin tidak semudah menyampaikan nasehat tersebut bagi kita untuk mengimplementasikan dalam kehidupan ini. Butuh kesadaran dan perjuangan keras agar spirit tersebut dapat kita terapkan dalam kehidupan. Yang umum terjadi spontanitas (termasuk mengeluh) lebih sering muncul mendahului sebagai reaksi atas suatu kejadian (menyedihkan/tidak enak) yang menimpa kita. Hal ini merupakan sebuah kewajaran sebagai manusia yang memiliki otak yang terbelah menjadi dua bagian, kanan dan kiri. Hal yang menguatkan ini seperti disampaikan Moch. Khoiri dalam bukunya “Sapa Ora Sibuk”, bahwa “Secara alamiah, otak kanan menyukai spontanitas, penuh kebebasan, dan tanpa aturan. Sementara itu, otak kiri hakikatnya menuntut kerja teratur, runtut, sistematis, dan penuh pertimbangan”.

Banyak contoh yang mungkin pernah kita alami dan bahkan kita lakukan yang menunjukkan reaksi spontanitas yang disukai otak kanan tersebut. Salah satunya, misalkan kita merasa tersinggung atau disakiti, hal yang pertama muncul biasanya adalah emosi kita meninggi, marah, atau bahkan mungkin bisa sampai mengeluarkan kata-kata kotor. Hal serupa terjadi saat kondisi pandemi covid-19 ini, tidak jarang kita jumpai atau bahkan kita sendiri melakukan hal-hal yang bernada emosional, mengeluh, merasa sulit, berat, dan sebagainya. Seperti inilah reaksi otak kanan kita yang cenderung spontan ketika merespon sesuatu yang kita alami.

Bagaimanapun kita harus tetap dan terus bersyukur, karena disamping otak kanan yang suka ketidakteraturan, kita juga dikaruniai penyeimbangnya, yaitu otak kiri yang lebih menyukai keteraturan. Oleh karena itu biasanya beberapa saat setelah muncul reaksi spontan tersebut, kita akan berpikir dan menimbang kembali hal-hal tersebut. Di sinilah otak kiri bekerja, termasuk mencerna dan mempertimbangkan nasehat untuk “jangan mengeluh” dalam kondisi apapun seperti disampaikan oleh orang nomor satu Jawa Tengah dalam sambutan tertulisnya pada upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-75 hari ini.

Seperti ungkapan “Semakin tinggi pohon akan semakin besar terpaan anginnya”, demikianlah perjalanan kehidupan kita. Semakin bertambah yang dititipkan kepada kita oleh Sang Pencipta, akan semakin banyak pula tantangan atau ujian yang mungkin kita hadapi. Hal yang demikian tidak cukup dan tidak seharusnya hanya kita hadapi dengan mengeluh. Semakin banyak kita mengeluh akan semakin berat beban kita rasakan. Oleh karenanya semangat “jangan mengeluh” harus tetap kita kobarkan dalam diri kita untuk menghadapi segala tantangan yang semakin hari akan semakin banyak dan mungkin lebih berat. Semangat dan tekat bulat dari para pejuang untuk terbebas dari penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan harus terus dikobarkan pada diri kita. Terbebas dari penjajahan pada jamannya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan merdeka harus terus kita perjuangkan.

JANGAN LELAH BERPROSES

Oleh: Yuliyanto
(17 Agustus 2020)


Kata berproses megandung pengertian mengalami proses, yaitu runtunan peristiwa dalam perkembangan sesuatu. Terdapat dua kata kunci dalam kata berproses, yaitu runtunan peristiwa dan perkembangan. Runtunan peristiwa merupakan suatu kejadian yang bersifat urut, sedangkan perkembangan merupakan sesuatu yang berkembang, yaitu menjadi bertambah sempurna. Dengan demikian, kata berproses ini dapat dimaknai mengalami peristiwa yang bersifat urut untuk berubah menjadi lebih baik atau sempurna.

Setiap hal dalam kehidupan kita merupakan hasil dari suatu proses tertentu yang kita lakukan. Setiap proses memuat tahapan-tahapan yang kadang-kadang harus kita jalani secara tidak enak yang bisa berpotensi mengakibatkan kita menyerah atau bahkan mungkin putus asa. Apabila hal ini yang terjadi, niscaya perubahan menjadi lebih baik atau sempurna tidak akan dapat diraih. Pun apabila salah satu atau beberapa tahapan dalam sebuah proses kita lewati. Memang yang seperti ini bukan hal yang tidak mungkin terjadi, tetapi bersifat khusus dan istimewa. Yang bersifat umum, tahapan-tahapan dalam sebuah proses itu harus dilakukan secara runtun.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan tangguh untuk berporses dalam kehidupannya. Mari kita lihat proses untuk bisa berjalan dari anak kita atau anak tetangga kita yang juga tentu pernah kita alami. Mulai dari hanya bisa tiduran terlentang ketika bayi, setelah beberpa waktu mulailah berusaha agar bisa tiduran dengan posisi miring. Selang beberapa waktu kemudian tengkurep, merangkak, berdiri, dan akhirnya dapat berjalan. Tidak semua tahapan itu dilalui dengan mulus, kadang harus terjatuh, sakit, dan menangis. Namun demikian dia akan terus mencoba dan berusaha dengan tidak pernah jera apalagi putus asa. Bukankah ini sebuah ketangguhan?

Di masa anak-anak saat belajar mengendarai sepeda bisa menjadi contoh lain yang sesuai untuk menggambarkan ketangguhan tersebut. Sering kita lihat dan pasti dulu juga pernah kita alami, saat belajar ini harus melalui tahapan jatuh atau terluka, yang tidak menyenangkan. Tetapi anak-anak dan juga kita waktu itu tidak pernah merasa jera atau putus asa untuk terus mencoba dan berusaha. Melalui tahapan jatuh kita menjadi lebih hati-hati dan belajar bagaimana agar tidak terjatuh lagi. Demikian terus kita lakukan hingga akhirnya bisa mengendarai sepeda seperti saat ini. Andai waktu itu, saat belajar dan terjatuh lalu kita jera dan putus asa tentu kita tidak akan bisa berhasil mengendarainya.

Saat ini mungkin kita sedang mengalami sesuatu, bisa bersifat menyenangkan namun bisa pula sebaliknya. Di balik semua itu harus kita yakini bahwa semua itu adalah bagian dari sebuah tahapan yang harus kita lalui dalam rangka berproses menjadi lebih baik. Tahapan berproses yang bersifat menyenangkan akan relatif lebih mudah diterima dan dilalui bagi semua orang yang mengalaminya. Hal sebaliknya, apabila tahapan ini kurang atau tidak bersifat menyenangkan dan tidak kita sikapi dengan cerdas bisa berpotensi mengakibatkan putus asa yang akan berakibat tidak tercapainya kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Di sinilah diperlukan kecerdasan emosional kita dalam menghadapi dan menjalaninya. Introspeksi dan refleksi diri menjadi hal yang lebih baik kita lakukan di saat seperti ini.

Disamping introspeksi dan refleksi diri, ada baiknya dalam kondisi yang kurang atau tidak menyenangkan dalam berproses menjadi lebih baik, kita mengingat ketangguhan seperti saat belajar berjalan atau mengendarai sepeda tadi. Hal ini penting untuk menimbulkan rasa percaya diri bahwa kita memiliki kemampuan untuk keluar dari kesulitan atau kegagalan (sementara) tersebut. Dengan demikian akan muncul semangat pantang menyerah, terus berupaya dan mencoba, serta menikmati semua tahapan dalam rangka berproses menjadi lebih baik.

Kegiatan tirakatan seperti yang saya atau Anda semua ikuti pada malam ini (Minggu, 16-8-2020) merupakan salah satu contoh perlunya kita melihat kembali kehebatan yang pernah terjadi. Melalui acara tirakatan menjelang perayaan HUT RI ke-75 ini, kita semua sedang berproses untuk menjadi lebih baik dan tangguh dengan cara mengenang kembali kehebatan para pejuang dalam meraih kemerdekaan ini. Kemasan acara mujahadah, seperti di tempat saya mengikuti kegiatan ini menjadi salah satu media berdoa memohon kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa untuk para pejuang kemerdekaan dan generasi penerus agar mampu mempertahankan, mengisi, dan melanjutkan perjuangan sesuai dengan jamannya. Hiasan tumpeng dalam acara ini disajikan sebagai sebuah simbol rasa syukur atas karunia-Nya sehingga dapat menikmati kehidupan di alam yang merdeka ini.

Sumber: Koleksi pribadi

Beberapa hal di atas hanyalah sebagian kecil gambaran tentang sebuah proses yang terjadi dalam kehidupan kita. Telah banyak tahapan-tahapan yang kita lewati dengan segala bentuk dan rasanya, dan hal itu tentu akan terus kita alami nanti. Semua aspek dalam kehidupan ini adalah sebuah tahapan yang harus kita lalui dalam rangka berproses untuk menjadi lebih baik. Sesuai ungkapan bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses, maka menikmati semuanya menjadi sebuah keharusan agar kelak kita dapat pula menikmati hasilnya. Oleh karenanya teruslah berproses dan jangan pernah lelah menjalaninya, agar kita benar-benar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

DEWI PANTHAWATI

Oleh: Yuliyanto
(12 Agustus 2020)


Bagi orang Jawa, nama ini sekilas mirip dengan nama tokoh dalam dunia pewayangan. Tetapi dalam tulisan ini sama sekali nama ini tidak terkait dan bahkan memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan tokoh dalam pewayangan. Nama ini dimunculkan oleh beberapa teman dalam suatu komunitas untuk menyebut teman yang sering bertugas ngedum (membagikan) sesuatu setelah membaginya menjadi beberapa bagian. Tentu saja sebutan ini hanya bersifat kelakar yang menimbulkan tawa agar suasana menjadi meriah.

Seperti kejadian hari ini (Rabu, 12-8-2020) di rumah seorang teman, tempat di mana disepakati untuk berkumpul bersama. Acaranya dikemas spontan dan bersifat refreshing dengan memancing ikan di kolam milik tuan rumah. Undangan pun hanya disampaikan lewat grup whatsapp komunitas itu. Anggota yang berkenan ikut dalam acara itu menuliskan nama pada daftar yang disediakan di grup tersebut. Sampai pagi hari ini tadi terdaftar 17 orang yang bisa bergabung, termasuk seorang teman yang pada hari sebelumnya menyampaikan tidak bisa ikut.

Sumber: Koleksi pribadi

Sampai pada waktu kumpul yang telah disepakati, ada beberapa teman yang sudah menyatakan bisa ikut tetapi karena sesuatu hal tidak jadi bisa bergabung. Saya sendiri baru bisa bergabung setelah beberapa kegiatan yang sudah terjadwal hari ini selesai semua. Untuk memastikan, sekitar pukul 12.48 (sudah lewat hampir 3 jam dari waktu yang disepakati) saya bertanya melalui grup komunitas: “Masih nyandhakkah jika sekarang baru mau meluncur?” Selang semenit teman yang juga pemilik rumah menjawab singkat “Nyandhak Pak” Empat puluh menit kemudian, saat saya sudah dalam perjalanan menuju lokasi, teman lain menegaskan “Belum Pak, baru datang”.

Saat tiba di tempat, acara mancing sudah selesai, bahkan semua telah selesai juga menikmati hasil pancingannya. Karena saat itu masih ada dua orang teman yang belum hadir, saya memutuskan akan menunggu mereka untuk bersama-sama menikmati menu yang disajikan dari hasil mancing. Saat salah seorang diantaranya hadir, ada kabar kalau seorang teman lainnya tidak jadi bisa bergabung karena lupa dan sudah pulang ke rumah. Akhirnya kami berdua menikmati menu yang tersedia berdua saja. Beberapa saat kemudian kami bergabung kembali dengan teman-teman lain yang masih berbincang di ruang depan.

Ketika salah seorang teman memberi kode untuk pamit, teman yang punya rumah bilang “Sebentar lagi, baru dibuntelke...”. Ternyata beberapa teman perempuan yang berada di dapur sedang menyiapkan bungkusan berisi ikan hasil pancingan yang telah digoreng. Beberapa saat kemudian, benar salah seorang teman membawa tas plastik kemudian membagikannya kepada semua yang ada. Saat itulah seorang teman mengatakan “Dewi Panthawati beraksi”, dan suasana pun menjadi meriah dengan tawa semua yang ada di ruangan tersebut.

Sumber: Koeksi pribadi

Dari tawa teman-teman itu menunjukkan bahwa mereka semua mengetahui makna kata “Panthawati” yang berasal dari tembung Jawa yang kurang lebih artinya membagi sesuatu. Saya katakan kurang lebih, karena sebenarnya saya sendiri belum pernah membaca secara langsung arti kata tersebut. Untuk memastikan, saya mencoba mencari di kamus Bahasa Jawa online dengan memasukkan kata “pontho”. Ternyata tidak ditemukan arti kata tersebut. Saya coba menggantinya dengan kata “pantha”, pun tidak ditemukan artinya. Saya coba ulangi lagi dengan kata “montho” juga “mantha” ternyata tetap tidak ditemukan artinya.

Semakin penasaran tentang makna kata tersebut, saya mencoba bertanya kepada seorang teman apa arti kata “pontho”, dan dia menjawabnya singkat “membagi”. Karena belum yakin saya mencoba bertanya kepada teman lain, pengajar Bahasa Jawa dengan kata kunci yang sama. Dia pun menjawab “Menawi ‘mantha-mantha’ = membagi-bagi”, yang menyiratkan bahwa asal katanya bukan “pontho” tetapi “mantha-mantha”. Jadi kelakar yang muncul dengan sebutan “Dewi Panthawati” untuk salah satu teman tadi benar berasal dari kata “mantha-mantha” yang berarti membagi menjadi beberapa bagian kemudian memberikannya kepada orang lain, sesuai dengan tugasnya yang membagi-bagikan sesuatu.

BELAJAR DARI FUN GAME

Oleh: Yuliyanto
(9 Agustus 2020)


Entah apa yang menginspirasi panitia memilih istilah “Fun Game” untuk menyebut pertandingan persahabatan di Stadion Abu Bakrin Magelang hari ini (Minggu, 9 Agustus 2020). Sebuah pertandingan persahabatan sepak bola yang melibatkan empat Sekolah Sepak Bola (SSB): Pesat (Tegalrejo), Wajar (Magelang), IM (Semarang), dan MU (Muntilan). Masing-masing SSB membawa timnya bertanding berdasarkan kelompok umur: 12 tahun (kelahiran 2008), 11 tahun (kelahiran 2009), dan 10 tahun (kelahiran 2010), kecuali IM tidak menyertakan timnya pada kelompok umur 10 tahun (kelahiran 2010), yang digantikan oleh tim kelompok umur 9 tahun (kelahiran 2011) dari SSB Wajar untuk melengkapinya.

Setiap tim di masing-masing kelompok umur bermain sebanyak tiga kali melawan tim lainnya. Setiap pertandingan di masing-masing kelompok umur berjalan seru seperti dalam sebuah kompetisi yang memperebutkan gelar juara. Anak-anak bermain total, mengekspresikan keterampilannya seperti pemain profesional yang sedang membela tim kebanggaannya. Di luar lapangan pun tidak kalah serunya, para orang tua dari masing-masing SSB bersorak dan berteriak memberikan semangat kepada tim dimana anaknya ikut bertanding. Beberapa orang tua bahkan ada yang ikut turun dari tribun yang tersedia, turun ke lapangan untuk melakukan hal yang sama.

Terlepas dari itu semua, banyak pelajaran yang diperoleh untuk diterapkan di luar lapangan dari kegiatan ini. Penerapan protokol kesehatan bagi semua yang terlibat (siswa, orang tua, dan pelatih), dari mulai berangkat, memasuki stadion, dan selama berlangsungnya pertandingan dilakukan. Ini sesuai dengan himbauan pemerintah di masa pandemi dalam rangka menerapkan adaptasi kebiasaan baru. Keberangkatan tim diatur sendiri-sendiri untuk menghindari berkumpulnya orang di satu tempat dengan jumlah yang banyak. Pengukuran suhu tubuh sebelum memasuki stadion, kewajiban mengenakan masker, dan pengaturan tempat duduk di dalam stadion pun dilakukan untuk memenuhi protokol kesehatan.

Melalui kegiatan ini anak-anak juga belajar bersosialisasi dengan orang lain dalam lingkup yang lebih luas. Anak-anak dapat belajar untuk mengenal dan memahami perilaku kelompok sebayanya di lingkungan lain yang berbeda pada skala lebih luas. Hal ini bisa menumbuhkan rasa persahabatan diantara anggota tim yang bertanding, sesuai dengan nama kegiatan yang dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai sebuah pertandingan persahabatan. Dengan rasa persahabatan yang tinggi akan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan pada diri anak-anak sebagai bagian dari kelompok atau tim.

Sumber: Koleksi pribadi

Pelajaran berikutnya yang tidak kalah pentingnya dari kegiatan ini adalah melatih anak-anak untuk dapat bekerja sama dalam sebuah tim. Sepak bola adalah permainan tim yang memerlukan kerja sama yang baik diantara seluruh anggotanya. Setinggi apapun keterampilan atau kemampuan individu seorang pemain dalam sebuah tim, jika tidak didukung kerja sama yang baik dari pemain lainnya akan sulit bagi sebuah tim untuk meraih kemenangan. Kesadaran dan kemampuan bekerja sama dalam tim ini harapannya dapat diimplementasikan oleh anak-anak dalam tim-tim yang lain dalam kehidupannya sekarang maupun kelak setelah dewasa.

Kerja sama yang baik dalam sebuah tim memerlukan komunikasi yang baik diantara anggotanya. Komunikasi yang baik, mulai dari penjaga gawang, pemain belakang, tengah, dan depan dalam sepak bola akan membuahkan kerja sama yang baik. Teriakan-teriakan pemain diikuti gerakan tubuh tertentu selama pertandingan berlangsung merupakan salah satu bentuk komunikasi di lapangan. Dengan ini pemain yang satu akan memahami kemauan pemain lainnya, dan kerja sama tim untuk mencapai tujuan pun akan terlihat rapi. Kemampuan membangun komunikasi di lapangan ini juga menjadi salah satu pelajaran yang baik bagi anak-anak untuk dipraktikkan dalam kegiatan lainnya di luar lapangan.

Komunikasi dan kerja sama yang baik dalam tim dapat menimbulkan permainan total dari seluruh pemain. Hal ini akan memunculkan karakter lain dalam tim, yaitu semangat pantang menyerah. Selama pertandingan belum berakhir tidak ada istilah kalah atau menang. Dalam posisi menang, tim akan tetap bertanding sebaik-baiknya untuk mempertahankan atau menambah gol-gol kemenangan bagi timnya. Pun apabila tim dalam posisi kalah, selama waktu pertandingan belum berakhir, semua anggota tim akan terus berupaya mengerahkan segala kemampuannya untuk bisa meraih kemenangan di akhir pertandingan. Karakter pantang menyerah ini juga menjadi salah satu hal yang bisa ditumbuhkan kepada anak-anak melalui pertandingan seperti ini.

Akhir sebuah pertandingan pasti hanya salah satu diantara tiga hal yang mungkin terjadi, yaitu menang, seri, atau kalah. Walaupun memiliki semangat yang pantang menyerah, namun di akhir sebuah pertandingan sebuah tim harus rela menerima salah satu diantara tiga kemungkinan tersebut. Bagi tim yang meraih kemenangan bukanlah sebuah masalah. Pun apabila kedua tim berbagi nilai (seri), walaupun ada rasa kecewa tetapi hal itu dirasakan bersama oleh kedua tim, sehingga rasa rela menerima hasil pun relatif lebih mudah. Rasa sedih dan kecewa lebih sering dirasakan oleh tim yang kalah. Di sinilah perlunya anak-anak belajar menerima kekalahan dalam sebuah pertandingan. Hal yang sangat mungkin akan mereka hadapi dalam kehidupan nyata pada konteks yang berbeda.

Peran pelatih dan orang tua sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan karakter-karakter tersebut pada diri anak-anak. Oleh karenanya evaluasi menjadi hal yang sangat penting dilakukan dan difasilitasi oleh pelatih dan orang tua. Evaluasi tidaklah hanya untuk mengidentifikasi kekurangan atau kelemahan individu atau tim, tetapi juga harus menyentuh kelebihan dan kekuatannya. Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihannya, baik secara individu maupun tim, anak-anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik secara individu maupun tim. Dengan demikian kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, bekerja sama, pantang menyerah, dan menerima hasil dapat benar-benar dimiliki anak-anak sebagai hasil lain disamping keterampilannya bermain bola.

LAMPU KUNING UNTUK ZONA KUNING

Oleh: Yuliyanto
(8 Agustus 2020)


Baru-baru ini pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memublikasikan Siaran Pers bernomor 210/Sipres/A6/VIII/2020 tertanggal 7 Agustus 2020. Inti dari Siaran Pers tersebut berkaitan dengan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka. Pemerintah membuka peluang bagi sekolah-sekolah yang berada di zona kuning bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka, yang sebelumnya hanya dibuka untuk sekolah-sekolah di zona hijau.

Peluang tersebut tertuang dalam kalimat: “Pelaksanaan pembelajaran di zona selain merah dan oranye, yaitu di zona kuning dan hijau, untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat”. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi berbagai kendala yang muncul selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Dari sisi peserta didik, Mendikbud menyampaikan beberapa kendala tersebut diantaranya adalah kesulitan berkonsentrasi dan meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan jiwa.

Berbagai reaksi pun muncul sebagai respon hal tersebut. Ada yang menyambut gembira, namun tidak sedikit yang justru merasa kawatir. “Neng TV lagi dibahas boleh sekolah tatap muka di zona kuning”, begitu salah seorang teman menyampaikan di sebuah grup whatsapp. “Memang iya”, salah satu anggota grup menjawab singkat. Selang beberapa saat, seorang anggota grup lainnya menyampaikan “Aku kok malah wedi”. Kedua respon di grup tersebut mungkin bisa menjadi salah satu gambaran kudua reaksi tersebut.

Respon pertama “Memang iya” menyiratkan sebuah perasaan gembira dan optimis, sedangkan respon kedua memperlihatkan dengan jelas perasaan takut (wedi). Kedua respon tersebut tentu masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda. Yang menyambut gembira, besar kemungkinan didasari rasa jenuh yang sudah mulai memuncak dan berbagai kendala lain yang muncul selama ini, disamping persiapan-persiapan matang yang sudah dimiliki. Sedangkan yang merasa kawatir, lebih didasarkan pada tingkat resiko yang mungkin terjadi. Hal ini sangat logis muncul mengingat covid 19 sangat mudah menular, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.

Terlepas dari kedua perasaan tersebut, yang penting untuk kita pahami bersama dari kalimat dalam Siaran Pers tadi adalah “... dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat”. Kata “dapat” dalam kalimat tersebut menyiratkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tatap muka itu bukanlah bersifat “harus” atau “wajib” bagi sekolah di zona kuning. Hal ini diperkuat dengan kalimat berikutnya yang mensyaratkan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Ini berarti sekolah di zona kuning yang akan membuka pembelajaran tatap muka juga harus sanggup dan mampu menjamin penerapan protokol kesehatan.

Sumber: Koleksi pribadi

Seperti ketentuan sebelumnya yang hanya berlaku pada zona hijau, disamping kesanggupan menerapkan protokol kesehatan yang dituangkan dalam surat pernyataan, masih terdapat tiga syarat lainnya yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka. Ketiga syarat tersebut yaitu: memperoleh izin dari pemerintah daerah (Gugus Tugas Covid 19), memenuhi semua daftar periksa untuk pembelajaran tatap muka, dan mendapat persetujuan dari orang tua peserta didik. Selengkapnya terdapat empat syarat yang harus dipenuhi. Salah satu diantaranya tidak dipenuhi, pembelajaran tatap muka tidak dapat dilaksanakan.

Lampu kuning sudah menyala, semua komponen (keluarga, sekolah, dan masyarakat) harus bersiap menyambutnya. Pola pikir sebagian masyarakat yang bersifat melemahkan, yang masih menganggap bahwa corona itu hanya sesuatu yang bohong dan rekayasa harus dibersihkan. Sekolah disamping menyiapkan kelengkapan sarana prasarana sesuai daftar periksa, juga harus lebih intensif melaksanakan protokol kesehatan bagi seluruh warganya. Adaptasi kehidupan baru: sering cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, istirahat cukup dan olahraga, serta makan dengan gizi seimbang menyongsong hal tersebut harus lebih digelorakan dan dilaksanakan sebagai sebuah kebudayaan, mulai dari keluarga.

JOGLO SEMOET

Oleh: Yuliyanto
(5 Agustus 2020)


Joglo merupakan istilah untuk menyebut sebuah gaya bangunan khas Jawa yang atapnya menyerupai trapesium dengan bagian tengah menjulang ke atas berbentuk limas. Ciri lain ruang yang lebar dan tidak bersekat-sekat dengan empat buah tiang penyangga. Dengan struktur seperti ini mengakibatkan sirkulasi udara sangat baik, sehingga menimbulkan dampak yang sejuk dan nyaman untuk sebuah pertemuan. Apalagi jika bangunan seperti ini terletak di tengah-tengah area persawahan.

Joglo Semoet merupakan sebuah tempat yang terletak di Desa Kebonrejo Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang. Dari tampilan fisiknya tampak bahwa tempat ini masih dalam proses penyempurnaan pembangunannya. Belum begitu jelas latar belakang penggunaan nama ini di area tersebut. Bagian nama joglo pada tempat ini kemungkinan besar karena adanya bangunan joglo di area tersebut. Adapun penggunaan nama semoet (semut), diduga karena di sekitar area tersebut terdapat industri keluarga gula semut.

Belum sempurnanya pembangunan dan penggunaan tempat tersebut mengakibatkan Joglo Semoet belum begitu populer di masyarakat, pun untuk beberapa warga masyarakat di sekitarnya. Pertemuan lintas sektoral yang diselenggarakan oleh Puskesmas Candimulyo hari ini (Rabu, 5 Agustus 2020), bisa jadi merupakan sebuah upaya memasyarakatkan tempat tersebut. Pertemuan ini bertujuan untuk menggalang kerjasama lintas sektor dalam penyelenggaraan pembangunan bidang kesehatan di tingkat kecamatan.

Mengawali pertemuan ini, untuk memenuhi protokol kesehatan dan mengedukasi masyarakat, panitia melakukan presensi sambil memeriksa suhu tubuh peserta, pembersihan tangan menggunakan hand sanitizer, dan memastikan peserta mengenakan masker. Bagi peserta yang belum menggunakan masker, panitia menyediakannya. Hal ini dilakukan untuk memastikan semua peserta mengenakan masker dan dalam kondisi benar-benar sehat, seperti ketentuan tambahan yang tercantum pada undangan.

Dua hal yang menjadi inti pada pertemuan ini, yaitu sosialisasi program “Jogo Tonggo” dan “Adaptasi Kebiasaan Baru”. Keduanya disampaikan oleh dua orang berbeda setelah acara seremonial dari Camat, Kapolsek, Danramil, dan Kepala Puskesmas. Di tengah-tengah berlangsungnya acara, beberapa kali pembawa acara sempat mengingatkan seluruh peserta untuk tetap menjaga jarak antara satu dan lainnya. “Untuk memenuhi protokol kesehatan, mohon Bapak/Ibu tetap menjaga jarak”, demikian pembawa acara mengingatkan peserta. Senam ringan dengan membentangkan tangan pun dilaksanakan di sela-sela acara, disamping untuk penyegaran juga untuk tetap menjaga jarak antar peserta.

Paparan materi inti “Jogo Tonggo” disampaikan oleh petugas dari puskesmas. “Program ini merupakan program dari Gubernur Jawa Tengah”, demikian petugas mengawali paparan sambil menayangkan slide program “Jogo Tonggo”. Berikutnya disampaikan secara serampangan mulai dari anggota "Jogo Tonggo", prinsip kerja satgas "Jogo Tonggo", struktur organisasi satgas "Jogo Tonggo", dan bidang tugas satgas. Penyampaian secara serampangan ini karena isi paparan bersifat pengulangan. “Saya menyampaikan ini bukan untuk minteri tetapi untuk mengingatkan, terutama bagi diri saya sendiri”, begitu kurang lebih dia menyampaikan.

Sumber: Koleksi pribadi

Hal yang perlu menjadi penekanan dari prinsip kerja “Jogo Tonggo” adalah prinsip kemanusiaan dan gotong royong, disamping beberapa prinsip lainnya: non permanen saat kondisi darurat, transparan, dan melibatkan semua pihak. Paparan program ini diakhiri dengan tayangan daftar paket bantuan “Jogo Tonggo Kit” dari pemerintah provinsi. Disamping untuk sosialisasi, tayangan ini juga untuk memastikan bahwa seluruh desa di wilayah kecamatan itu sudah menerima paket bantuan tersebut.

Paparan materi inti kedua tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru” disampaikan oleh Plt. Kepala Puskesmas, yang menggantikan pemateri utama yang sampai pada saatnya belum bisa hadir karena masih ada pasien. Terdapat banyak hal yang ditayangkan pada paparan ini, tetapi materi ini pun disampaikan sercara serampangan. Inti penekanannya adalah pada pola kehidupan yang sehat untuk melindungi diri dan keluarga dari hal-hal yang mungkin terjadi berkaitan dengan covid-19. Selalu mengenakan masker, sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan masa, dan keluar rumah seperlunya saja, merupakan beberapa hal yang menjadi penekanan pada paparan materi ini.

Alasan pemilihan tempat pertemuan di “Joglo Semoet” menjadi hal lain yang menarik disampaikan oleh Plt. Kepala Puskesmas disamping isi paparan tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru”. Intinya, tempat dengan sirkulasi udara yang sangat baik seperti di “Joglo Semoet” ini menjadi salah satu tempat yang sangat representatif dan direkomendasikan digunakan untuk pertemuan. Tentu saja dengan tetap memenuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan, untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

AMONG-AMONG

Oleh: Yuliyanto
(2 Agustus 2020)


Istilah ini pertama kali saya kenal ketika masih kecil dulu Emak saya atau tetangga berteriak “Among-among, among-among ...”, sambil membawa tempat berisi nasi yang dicampur dengan beberapa jenis sayuran dan parutan kelapa dengan bumbu tertentu. Sesaat kemudian beberapa anak yang mendengar atau mengetahui teriakan itu berkumpul dan memakannya secara bersamaan. Biasanya tradisi ini dilakukan bertepatan dengan hari kelahiran anggota keluarganya.

Merujuk pada pelaksanaan tradisi di atas, among-among tidak jauh berbeda dengan perayaan hari lahir atau ulang tahun. Hal khusus pada among-among adalah pelaksanannya setiap 35 hari sekali, yang oleh orang Jawa disebut selapanan. Hal ini sesuai dengan pelaksanaannya yang bertepatan dengan hari lahir seseorang berdasarkan pasaran Jawa (pon, wage, kliwon, legi, dan paing).

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini sekarang sudah sangat jarang dilakukan, setidaknya di tempat saya tinggal, dan mungkin juga di tempat Anda. Entah faktor apa yang mempengaruhinya, yang jelas tradisi ini sudah banyak ditinggalkan, walaupun tidak ada larangan melaksanakannya. Memang belum bisa dikatakan hilang sama sekali, buktinya hari ini (Minggu, 2 Agustus 2020), saya masih menjumpai salah satu tetangga melaksakan tradisi among-among ini.

Pagi hari ini Pak RT menyampaikan pengumuman melalui grup whatsaap: “Pengumuman, sehubungan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI, untuk pemasangan-umbul-umbul dan lampu diharapkan hari ini bagi semua warga untuk kerja bakti pukul 8”. Tepat pukul 08.00 beberapa warga RT mulai berdatangan berkumpul di posko. Pada saat menunggu warga lain datang, pemilik rumah yang halamannya dijadikan posko keluar dengan membawa sesuatu sambil berkata “Among-amonge ben dho dipangan kene wae”. Salah satu yang sudah berada di posko bertanya “Among-amonge sinten Lek?”. Ibu pemilik rumah pun menjawab singkat “Ndika”, menyebut bagian nama anaknya yang lahir bertepatan dengan hari ini, Minggu kliwon.

Sumber: Koleksi pribadi

Beberapa saat kemudian beberapa orang di posko mulai bahu-membahu memasang umbul-umbul sesuai perintah Pak RT melalui pengumuman tadi. Memperhatikan isi pengumuman yang disampaikan oleh Pak RT tadi juga tidak lepas dari peringatan hari lahir. Ya, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 yang akan diperingati pada tanggal 17 bulan ini. Hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, saat diproklamasikan kemerdekaan Indonesia oleh dua tokoh proklamator kita, Soekarno-Hatta.

Inisiatif Pak RT mengajak warganya kerja bakti memasang umbul-umbul dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT RI ke-75 ini perlu diapresiasi. Sepengetahuan saya hingga saat ini belum ada perintah resmi dari Kepala Dusun atau Perangkat Desa lainnya untuk melaksanakan hal tersebut. Pun di beberapa dusun sekitarnya hingga saat ini juga belum tampak warganya melaksanakan kegiatan itu. Entah karena kebiasaan saja seperti tahun-tahun sebelumnya di bulan Agusutus seperti ini, ataukah karena faktor lain. Yang jelas, ternyata kegiatan tersebut sudah dipublikasikan oleh Menteri Sekretaris Negara RI melalui Surat bernomor: B-457/M.Sesneg/Set/TU.00.04//06/2020 tertanggal 23 Juni 2020 tentang Partisipasi Menyemarakkan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2020.

Sumber: Koleksi pribadi

Surat tersebut tentu saja tidak mencantumkan Ketua RT sebagai tujuannya. Tetapi salah satu butir isi surat tersebut memuat kegiatan seperti yang diperintahkan Pak RT kepada warganya. Penggalan himbauan pada butir nomor 1 dalam surat tersebut: “Memasang umbul-umbul, dekorasi, atau hiasan lainnya serentak sejak tanggal 1 Juli s.d. 31 Agustus 2020 ... ”. Mengacu isi butir ini memang sedikit terlambat yang dilakukan Pak RT, karena hari ini sudah tanggal 2 Agustus, sedangkan isi himbauan dalam surat itu seharusnya sejak tanggal 1 Juli. Namun demikian, sebagai salah satu warganya Pak RT, saya tetap mengapresiasi inisiatif Pak RT.

Pemasangan umbul-umbul memang hanyalah salah satu simbol partisipasi masyarakat dalam menyambut dan memeriahkan peringatan HUT RI. Tetapi kegiatan ini bisa menjadi salah satu penanda adanya rasa nasionalisme dalam diri warga masyarakat. Pak RT secara tidak langsung telah menumbuh kembangkan rasa nasionalisme pada diri warganya. Harapan lebih luas, melalui kegiatan ini dapat menyuburkan kecintaan terhadap tanah air pada diri warga, seperti rasa cintanya seorang ibu tadi yang hari ini melakukan among-among untuk memperingati hari lahir anaknya.

25 Agustus 2020

KURBAN

Oleh: Yuliyanto
(31 Juli 2020)


Terdapat tiga hal penting disampaikan oleh khatib dalam khotbah seusai salat Iduladha hari ini (Jumat, 31 Juli 2020). Pertama, ajakan untuk meneladani kepatuhan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Kedua, anjuran bagi yang mampu untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Ketiga, ajakan mengurbankan sebagian harta, pikiran, dan / atau tenaga sebagai salah satu bentuk implikasi dari ibadah kurban.

Terlalu sempit pengetahuan saya untuk membahas hal pertama dari yang disampaikan khatib tersebut. Pun hal kedua dari isi khotbah tersebut, yang bersifat "khusus", bagi siapa yang sudah "mampu". Oleh karenanya, hal ketiga menjadi yang lebih menarik, bagi saya untuk dibahas.

Kegiatan penyembelihan hewan kurban di tempat saya tinggal hari ini (mungkin juga di tempat Anda tinggal) memperlihatkan adanya contoh nyata pengurbanan dari semua orang yang terlibat di dalamnya. Hal ini menjadi gambaran nyata hal ketiga dari isi khotbah tadi. Tidak saja tujuh orang yang melaksanakan kurban dengan menyembelih hewan, tetapi hampir semua orang yang terlibat di dalamnya berkurban sesuai dengan perannya masing-masing.

Dari sejak datangnya hewan kurban di malam Iduladha, bentuk pengurbanan sudah terjadi. Beberapa orang yang merelakan waktu dan tenaganya menjaga dan menyarikan makan untuk hewan itu, tidak bisa tidak dipandang sebagai sebuah bentuk pengurbanan. Tidak ada yang meminta dan menjadwal secara khusus untuk itu. Semua berjalan wajar dengan sifat sukarela tanpa paksaan.

Berikutnya, seperti tahun-tahun sebelumnya warga di lingkungan itu melaksanakan proses penyembelihan hewan kurban secara bersama penuh nuansa gotong royong. Hampir semua warga berkumpul di tempat penyembelihan, dengan berbekal tenaga dan / peralatan sederhana. Semua dilakukan tanpa paksaan dari siapa pun. Bukankah ini merupakan sebuah bentuk pengurbanan?

Proses penyembelihan dimulai dengan penjegalan hewan kurban. Semua saling bekerja sama bahu membahu sesuai kemampuannya. Sesaat setelah ambruk dan mapan, semua mengambil perannya. Ada yang memegang bambu penyangga, memegang bagian tubuh hewan, hingga sang penyembelih melaksanakan tugsnya sesuai syarat dan ketentuan.

Setelah dipastikan hewan kurban mati, beberapa orang yang merasa mampu melakukan kelet (melepaskan kulit hewan) pun mengambil perannya. Beberapa orang lainnya mengangkut bagian tubuh hewan yang sudah bersih ke tempat penimbangan. Beberapa orang yang saling bersinergi inilah yang membuat proses ini cepat selesai.

Sumber: Dokumen pribadi

Di tempat penimbangan sudah bersedia beberapa orang lainnya yang siap memilah-milah daging hewan kurban. Dalam beberapa saat pun pekerjaan ini selesai. Bagian penimbangan segera mengambil perannya, menimbang seluruh daging dan mengambilkan bagian untuk tujuh orang yang berhak.

Proses berikutnya adalah penimbangan daging kurban berdasarkan banyak calon penerima yang sebelumnya sudah didata dan diverifikasi. Dengan dua buah timbangan dari pinjaman warga, dilakukan penimbangan oleh masing-masing dua orang membuat proses ini pun cepat selesai. Di saat yang bersamaan, pembagian bagian hewan kurban selain daging juga berjalan.

Pengemasan bagian selain daging menjadi akhir proses sebelum dibagikan kepada warga dalam daftar yang sudah disiapkan. Beberapa orang mengemasi, lainnya memasukkan ke beberapa wadah dan menghitung sesuai banyak warga penerima. Di luar sudah tampak bersiap seorang lainnya menyiapkan kendaraan "elsapek" untuk mengangkut dan membagikan kepada warga.


Sumber: Dokumen pribadi

Ketika semua sudah siap, tanpa komando beberpa orang menaikkan keranjang berisi kemasan daging ke atas kendaraan "elsapek". Sesaat kemudian beberapa orang sambil membawa daftar dan pulpen ikut naik bersiap membagikannya. Hanya butuh beberapa menit mereka sudah kembali ke tempat asal dan menyampaikan semacam laporan pelaksanaan pembagian daging kurban.

Nampak dari awal proses, semua orang di situ memberikan sebagian yang dimiliki: harta, pikiran, dan / tenaganya. Semua berkurban sesuai dengan yang dimiliki dan kemampuannya. Hal yang sangat sesuai dengan bagian ketiga yang dismpaikan oleh khatib dalam khotbah Iduladha hari ini. Semua berkurban, sebuah pelajaran dari sebuah bentuk ibadah yang harus diimplikasikan dalam bentuk yang nyata dalam kehidupan.

KUE KACAMATA

Oleh: Yuliyanto
(31 Juli 2020)


Ingin sekali membuat tulisan malam ini. Tapi tentang apa ya? Serasa mandheg, tidak ada ide untuk dijadikan sebuah tulisan. Rasanya terus ada yang meletup-letup untuk memenuhi keinginan ini.

Tulis saja tentang apa pun, jangan menunggu ada ide. Demikian terus terngiang dalam pikiran. Jadilah jemari ini menekan tombol keybord, merangkai kata demi kata menjadi tulisan ini. Terasa seret tapi ada dorongan kuat untuk tetap membuatnya.

Seperti tulisan di malam Jumat sebelumnya, kali ini masih dalam suasana yang sama, sambil jaga malam di posko. Saat sore tadi hadir di posko memenuhi jadwal sebagai bentuk pemufakatan, tampak sebungkus kue dua warna, merah muda dan hijau, berbentuk bundar dengan seiris pisang di tengahnya.

Sumber: Dokumen pribadi

Teringat waktu kecil dulu, kue seperti itu disebut kue kacamata. Mungkin simbah waktu itu memberi nama itu karena bentuknya yang menyerupai bundarnya kacamata. Walaupun berjudul nama kue ini, tetapi dalam tulisan ini tidak akan membahas bagaimana kue itu dibuat, seperti apa resep dan cara membuatnya?

Lebih menarik membahas kenapa kue itu ada di posko malam ini. Pemufakatan adalah alasannya. Ya, malam ini ada salah satu anggota di jadwal yang tidak bisa hadir. Sesuai pemufakatan, yang bersangkutan harus memberikan snack untuk anggota lain yang hadir.

Pemufakatan yang berarti kesepakatan, berasal dari kata mufakat. Kata ini sering mengikuti kata musyawarah. Saat belajar di bangku sekolah dulu, guru kita sering menggabungkannya dengan kalimat "musyawarah untuk mufakat". Ini berarti pemufakatan merupakan hasil dari sebuah musyawarah.

Berbicara pemufakatan, ternyata tidak saja hadirnya kue kacamata di posko. Beberapa saat setelah semua anggota piket berkumpul, hadir seseorang di posko dan bertanya "sapine ajeng paringke pundi?" (Sapinya mau ditaruh dimana?). Kebetulan malam ini bertepatan dengan malam Idul Adha, dan besuk pagi ada rencana Qurban dengan menyembelih hewan itu.

Salah seorang di posko menjawab "paringke mrika mawon", sambil menunjuk arah tempat yang sudah direncanakan untuk menaruh hewan tersebut. Ini terjadi juga karena pemufakatan sebelumnya. Pemilik sapi memenuhi pemufakatan dan mengantarkan pada malam Idul Adha, setelah musyawarah dengan perwakilan yang bertugas mencari hewan qurban. 

Melaksanakan pemufakatan dapat mempererat tali sillaturrahiim diantara pihak yang terlibat. Simpulan ini saya sarikan dari pembicaraan yang punya sapi dengan yang mencari hewan qurban. Beberapa saat setelah menaruh sapi, mereka melakukan serah terima sejumlah uang yang telah disepakati.

"Sak pungkure njenengan nika, jane onten sik ngaerepi langkung inggil", yang punya sapi menceritakan. Jika hanya berpikir pragmatis, tanpa memikirkan pemufakatan yang telah dibuat, mungkin dia akan memberikannya. Tetapi faktanya malam ini sapi tetap diantarkan sesusi pemufakatan. Dia pun menyampaikan kalau jalinan persaudaraan lebih dari sejumlah materi, apalagi dengan nengabaikan pemufakatan.

Pemufakatan bisa terjadi antara banyak orang, beberapa orang, dua orang, bahkan bisa juga terjadi dengan diri sendiri. Tidaklah berlebihan apabila tulisan ini pun hasil dari sebuah pemufakatan dalam diri saya. Apa pun dan seberapa pun saya harus terus belajar menulis. Dan sebaik-baik cara adalah dengan membuatnya. Setelah itu, lupakan dan berpikir untuk hal lainnya.

24 Agustus 2020

DAMPAK KELAS ONLINE

Oleh: Yuliyanto
(29 Juli 2020)


Minggu ini sudah memasuki minggu ketiga awal tahun pelajaran baru 2020/2021 sejak dimulainya pada tanggal 13 Juli yang lalu. Proses pembelajaran di awal tahun pelajaran baru ini mungkin sudah lebih sedikit maju dibandingkan pada saat awal masa pandemi di bulan Maret lalu. Argumentasi logis yang mendukung dugaan ini adalah sudah adanya perencanaan yang lebih baik.

Pada bulan Maret lalu pelaksanaan bersifat mendadak dan tiba-tiba karena situasi darurat. Semua harus dilaksanakan dari jarak jauh, yang sebagian besar dimaknai sebagai daring (online), walaupun sebenarnya luring (offline) pun bisa. Di awal tahun pelajaran baru ini, semua sudah dirancang dan dikondisikan jauh hari sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, memasuki minggu ketiga awal tahun pelajaran baru ini, mulai mucul beberapa dampak dari pembelajaran daring (online). Mulai terasa adanya rasa jenuh menjalani rutinitas secara online. Namun dibalik rasa jenuh ini meunculkan juga rasa syukur bahkan kreativitas tertentu, walaupun bersifat "guyon" atau hiburan.

"Menghibur diri biar tidak jenuh dan frustasi dengan online", begitu seorang teman menyampaikan lewat pesan whatsapp. Ini salah satu bukti mulai adanya rasa jenuh, dampak dari kelas online. "Le mantengin lembar kerja pembelajaran saja sudah luar biasa ini", lanjut teman itu menyampaikan argumentasinya. "Masih melayani japri-japrian dengan sabar dan ihlas", demikian kata teman yang mengampu 182 siswa dalam pembelajarannya.

Kejenuhan itu muncul mungkin sebagai akibat dari pasifnya proses yang berlangsung saat ini. Di sebuah tempat pembelajaran, mungkin terjadi juga di tempat Anda, guru lebih banyak duduk, menghadapi gadget. Pemandangan yang terlihat seperti orang duduk-duduk saja, padahal sedang melaksanakan proses pembelajaran. "Aktif di dunia maya, pasif di dunia nyata", begitu kelakar seorang teman melihat pemandangan itu.

Sumber: Dokumen pribadi

Tentu rasa jenuh itu tidak harus kita biarkan, harus dihilangkan, apalagi kalau sudah menjurus pada rasa frustasi. Di sinilah rasa syukur harus dimunculkan. Lihatlah jauh di bagian luar (terluar) diwilayah kita, yang mungkin lebih sulit kondisinya akibat keterbatasan sarana dan akses untuk kegiatan serupa. 

Hal lain yang muncul akibat kejenuhan dari kelas online ini adalah kreativitas tertentu, walaupun bernuansa "guyon" sebagai hiburan untuk mengusir rasa jenuh. Hari ini melalui sebuah grup whatsapp tersebar beberapa akronim berkaitan dengan kelas online. Entah siapa yang membuatnya, tetapi dipastikan saat ini sudah jutaan orang membacanya. Kelas online disingkatnya KELON, moda daring disingkatnya MODAR dan banyak lagi akronim serupa dalam sebuah pesan whatsapp tersebut.

Kreatifitas serupa saya jumpai di sebuah status whatsapp seorang teman. Dia mengunggah gambar badge sekolah bertuliskan "SD NEGERI ONLINE". Tidak hanya itu, di bawahnya terdapat gambar logo bertuliskan "Ing Sinyal Sung Tulodho, Ing Kuota Mangun Karso, Tut Wifi Hndayani". 

Sudah pasti hal itu tidak ada dalam dunia nyata. Siapa pun pembuatnya saya meyakini hanya sebagai sebuah "guyon" yang bersifat menghibur. Kalimat di bawah gambar bedge "SD NEGERI ONLINE" didopsi dari falsafah luhur KH. Dewantara: "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani".

Kembali ke ruh pendidikan seperti falsafah dari KH. Dewantara menjadi hal terbaik mengatasi permasalahan, termasuk kejenuhan akibat kelas online ini. Ketika berada di depan harus memberi contoh, saat di tengah menjadi sumber inspirasi, serta di belakang mendorong dan memotivasi. Di masa pembelajaran online saat ini, semangat itu harus tetap digelorakan. Semua harus bisa menjadi teladan, harus bisa menginspirasi, dan medorong untuk bergerak sesuai tupoksinya, sehingga kejenuhan yang mejurus kepada frustasi tidak terjadi.

LITERASI DAN LITERATE

Oleh: Yuliyanto
(29 Julli 2020)


Literasi merupakan sebuah aktivitas yang tidak bisa tidak dekat dengan aktivitas membaca dan menulis. Dalam lingkup yang lebih luas kegiatan ini mencakup berbagai sektor, seperti literasi matematika, literasi digital, literasi kepustakaan, litersi kebudayaan, dan sebagainya. Aktivitas membaca dan menulis dalam literasi harus dipahami sebagai aktivitas yang tidak saja sekadar membaca, tetapi juga harus memahami dan bisa menuliskan kembali dengan kalimat sendiri.

Orang yang memiliki kenampuan membaca dan menulis ini, di beberapa rujukan biasa disebut literate. Sekali lagi kemampuan membaca di sini termasuk di dalamnya memahami isi bacaan. Dengan begitu orang yang literate akan mampu menuliskan kembali muatan dalam bacaan, dan mengembangkannya ke dalam tulisannya sendiri.

Membaca saja tanpa memahami dan mengimplementasikannya dalam perilaku, belumlah bisa disebut literate. Contoh sederhana, jika kita diminta menyebutkan nomor handphone lalu kita menyebutnya dengan mengatakan "kosong delapan satu ....", ini salah satu tanda kita belum melek matematika. Mengapa demikian?

Dalam sistem bilangan yang kita terima pada pelajaran matematika tidak ada angka atau bilangan "kosong", tetapi "nol". Dalam kasus penyebutan nomor handphone di atas, menunjukkan bahwa orang tersebut belum mengimplementasikan pengetahuannya dengan benar. Untuk bisa dikatakan literate, dalam melek matematika harusnya menyebutkannya dengan "nol delapan satu ..."

Contoh kasus sederhana lainnya, tidak sedikit orang mengatakan "lima puluh kilo" saat ditanya tentang berat badannya. Hal ini menunjukkan orang itu belum mengimplementasikan pengetahuannya tentang salah satu satuan berat. Jika diterjemahkan kalimat jawaban itu berarti "lima puluh ribu". Bukankah ini belum menjawab pertanyaan tentang berat badannya? Orang yang literate tentu akan menjawabnya "lima puluh kilo gram".

Kedua contoh di atas mungkin sangatlah sempit dan sederhana sebagai sampel tentang kemampuan literasi kita. Logika sehat kita akan mengatakan jika yang sederhana saja demikian adanya, bagaimana dengan yang tidak sederhana? Perlu sebuah kajian lebih mendalam dan luas. Tetapi Gerakan Literasi Nasional yang dicanangan pemerintah cukup menjadi pendukung kuat lainnya bahwa kita masih harus terus membudayakan kegiatan membaca dan menulis sebagai bagian dari literasi agar menjadi literate.

INFO REDAKSI

Mulai saat ini, serial tulisan "Menjadi 'GOBLOK' Dalam Kesibukan" tayang juga di blog ini. Semua tulisan dalam serial ini diambil dari tulisan yang sama di catatan dan dinding facebook saya. Silahkan beri penilaian: Bermanfaat, Menarik, atau Menantang di bawah artikel yang sesuai. Bagi pengguna facebook masih tetap bisa membacanya melalui link: https://www.facebook.com/mr.yulitenan